Bagaimana dengan jalur menjadi Imigran gelap/Asylum/Protection Visa dan TKI/TKW

Bila teman-teman pernah mendengar cerita pada tahun 90an kondisi di Indonesia baik secara ekonomi, keamanan maupun kestabilan politik pada dekade tersebut kurang baik maka banyak teman-teman dari paspor Indonesia mengadu nasib dengan berangkat dengan visa turis ke negara-negara maju seperti Australia dan Amerika Serikat dan tidak kembali dengan sengaja.

 

Beberapa hal yang perlu di ketahui: 

  1. Pertama, adalah bahwa jalur ini adalah ilegal dan sangat tidak disukai oleh negara-negara yang dituju dan menyebabkan nama kurang harum untuk negara kita.

  2. Kedua kehidupan ilegal yang dijalani oleh mereka tidaklah mudah, mulai dari pekerjaan yang terbatas, seringkali dibayar dibawah upah yang layak,hidup bersembunyi, resiko deportasi karena hal-hal kecil spt tertangkap polisi saat mengendarai mobil, dilaporkan teman yang iri dll.

Katakanlah jika bisa hidup/stay hingga 20 tahun dinegara tsb tanpa tertangkap, mereka pun tidak bisa balik ke Indonesia, karena begitu pulang maka paspor mereka otomatis blacklist dan tidak bisa kembali ke negara tujuan, tidak bisa kita bayangkan kebebasan untuk bertemu keluarga atau orang yang dicintai tidak bisa terjadi. Dan apabila mereka menyatakan diri ingin balik ke Indonesia atau tertangkat sehingga harus deportasi atau Asylum/Protection visa mereka tertolak, apakah yang bersangkutan mampu atau bisa untuk menyesuaikan diri balik di Indonesia  setelah berpuluh-puluh tahun meninggalkan Indonesia, banyak dari mereka yang memiliki modal satu-dua milliar rupiah mencoba untuk berbisnis dan tidak berhasil, karena kita saja yang hidup di Indonesia tidak mudah untuk berbisnis, resiko tidak dibayar orang, ditipu, perpajakan dll, karena memiliki modal dan kemampuan berbisnis adalah dua hal yang berbeda.

 

​Yang menjadi titik penting disini adalah tidak ada/minimnya konsultan atau saran dari manapun untuk memberikan pertimbangan terbaik sebelum mengambil keputusan menjadi imigran gelap di negara lain, kebanyakan/semuanya mengambil keputusan karena merasa susahnya hidup di Indonesia (padahal disana juga sama susahnya), mumpung masih muda, hasil besar yang didapat jangka pendek, mendengar bahwa ada saudara/teman yang sukses dengan jalur gelap disana dan mau membantu awalnya, tetapi semua keputusan kita untuk menjadi imigran diluar negeri adalah sepenuhnya resiko kita masing-masing, bukan resiko teman/agen yang mengajak kita.

Tentang TKI/TKW

adalah program bagus yang dicanangkan oleh pemerintah, kebanyakan masyarakat dari kota kecil/kabupaten yang umr nya masih sejutaan yang tertarik dengan program ini, negara-negara yang dituju antara lain Hongkong, Taiwan, Malaysia, Singapore, Korea ataupun Timur Tengah. Karena dengan hasil 7-8juta rupiah setelah dipotong agen mereka masihdapat 3-4juta rupiah, tiga kali lipat dari umr mereka didesa.

Mereka harus menyediakan modal atau dipinjami sebagian modal oleh bank-bank di Indonesia untuk bisa berangkat.

Sesampai disana mereka ada agen yang menampung untuk kemudian diarahkan ke pekerjaan mereka sesuai kontrak.

Yang perlu diperhatikan disini bahwa disana teman-teman TKI/TKW tsb tidaklah memiliki kebebasan untuk memilih pekerjaan maupun gaji mereka, diluar gaji mereka yang dipotong karena harus mengembalikan dana keberangkatan, dan biasanya paspor mereka ditahan oleh pihak tertentu, wajar karena jika mereka tidak cocok dengan pekerjaan/negara tsb/tidak kerasan mereka tidak bisa semena-mena minta pulang ke Indonesia dan tidak mengembalikan pinjaman keberangkatan tsb. dan karena paspor mereka ditahan sebenarnya mereka adalah korban human slavery atau human trafficking menurut dunia Internasional, bedanya adalah mereka mau secara sukarela, sehingga tidak heran banyak terjadi penyiksaan,maaf  pemerkosaan bahkan sampai pembunuhan terhadap TKI/TKW yang seringkali diberitakan. Dengan tidak adanya paspor maka TKI/TKW tsb jelas tidak bisa balik ke Indonesia karena alasan apapun sebelum kontrak mereka habis dan paspor mereka dikembalikan.

Jadi mereka  dijanjikan dapat uang banyak dan dicarikan pekerjaan (tidak usah mencari sendiri) , tetapi disisi lain mereka tidak bisa memilih pekerjaan dan gaji (tidak cocok dengan majikan/jumlah gaji harus diterima) dan belum resiko disiksa dll dan tidak bebas pulang Indonesia kapanpun. dan tidak bisa jika mereka mau hidup disana seterusnya.

 

Setelah mereka selesai kontrak dan balik Indonesia? selain uang mereka tidak memiliki pengetahuan tambahan selain menjadi tenaga kerja/pembantu, dan tetap sulit untuk bisa bekerja di kantoran, dan banyak yang gagal berbisnis, karena kembali ke teori modal dan kemampuan berbisnis adalah beda.

Dan bagaimana yang mereka ingin hidup terus disana, satu-satunya jalan adalah jalan pernikahan dengan orang setempat, untuk jalur Asylum/protection visa kecil/mustahil peluangnya, belum lagi mereka menandatangani bahwa mereka akan kembali ke Indonesia seusai kontrak

Dari kedua hal tersebut diatas ada persamaan yang mencolok:

1. mereka mengharapkan penghasilan luarnegeri yang lebih besar tanpa memikirkan resiko jangka panjangnya.

2. mereka sulit/tidak bisa melanjutkan hidup dinegara tersebut

3 .setelah kembali ke Indonesia karena memiliki uang biasanya mereka mencoba berbisnis dan meresikokan uang mereka satu-satunya.

4. tidak mendapat edukasi tambahan untuk meningkatkan kualitas pekerjaan/berbisnis, karena hanya dimanfaatin tenaganya saja.

Memang tidak semuanya yang berjuang diluar negeri mengalami hal ini, mungkiin juga ada yang sukses, tapi disini kita sharing yang umumnya terjadi.

Created by